Part 1
horeeee…. tanggal 9 April lalu aku liburan di Garut bersama orang tuaku… kami mulai berangkat pukul 6: 30, padahal rencananya mau berangkat jam 6:00 haha… ngeret sengah jam. Well ga papa lah. Selama perjalanan menuju tol Cileunyi Aku, Hani, dan Angky tidur sepanjang perjalanan. Apalagi Hani, dia si begitu masuk mobil langsung tertidur, maklumlah katanya dia ga tidur semalam (memperbaiki laptopnya jadi harus ke Bogor dulu).
Aku dan adik-adiku mulai terbangun kembali ketika sudah terbentang sawah menghampar… bahkan teringat kenangan sewaktu pertama kali aku ke Garut bersama pacar untuk pertama kali (well waktu itu dia masih belum menjadi pacarku). Ada satu masjid yang mengingatkanku bersamanya, yaitu ketika aku menunggunya mengisi bensin alias motornya sempat mogok karena kehabisan bensin jadilah aku menunggunya di masjid tersebut hihihi…
Ketika aku melihat Gunung Guntur, kembali teringat kenangan ketika pertama kali aku dan pacarku kesana, masa kami dianggap mau berbuat mesuk, padahal saat itu kami hanya mengecek apakah gunung tersebut aman apabila ingin berkemah atau tidak, karena kami pernah mendengar bahwa gunung Guntur merupakan salah satu pegunungan yang sering digunakan untuk berkemah, waktu itu kami malah ditawari hotel disekitar Cipanas… (haha… penduduk yang aneh…)
Yah, kembali ke perjalananku dan keluarga ku, setelah melewati gunung Guntur aku kembali tertidur, hahahaha…. nah ketika melewati Cipanas, mobil kami sempat terhenti sebentar karena ayahku masih tidak tau dimana letak Hotel Danau Dzariza itu, sehingga kami terpaksa bertanya ke penduduk sekitar. Ada hal yang lucu ketika kami sedang kesulitan mencari letak hotel kami itu. Sejak awal perjalanan, ayahku menggunakan GPS, dan GPS itu selalu mengeluarkan suara seperti “1 km di depan belok ke kanan” dan lain sebagainya.
Nah, untuk lokasi hotel ini karena baru pertama kali mau kesana, otomatis dia pun tidak tau letaknya dimana, sehingga tidak jarang dia selalu bersuara “menghitung ulang” terus-terusan seakan-akan ayahku dimarahin karena salah jalan. hahaha…
Akhirnya setelah perjalanan yang panjang sampailah kami di hotel Dzariza. Hotelnya cukup bagus, benar-benar ada danau, mirip rumah-rumah panggung dan setiap rumah memiliki satu perahu, yang dikaitkan di tangga rumah masing-masing. Kami sempat berfoto-foto di perahu tersebut sekaligus merayakan ulangtahun perkawinan perak orang tua ku ehehehe….
Setelah agak lelah, kami beristirahat sebentar dikamar dengan menonton tv, tak lama kemudian datanglah saudara kami yang berasal dari Garut juga, ketika mereka datang semangat muncul lagi, jadi kami mulai berjalan-jalan mengelilingi hotel bersama-sama. Mulai dari menjelajahi danau dzariza, naik bebek-bebekan (waterbike), kemudian berfoto-foto di sekitar jembatan gantung, disana juga ada flying fox, sayangnya kami tidak bisa naik karena sudah dipesan oleh beberapa perusahaan yang sama-sama sedang melakukan liburan disana.
Sehabis berfoto-foto tidak terasa waktu sudah bertambah sore, akhirnya kami mulai mencari oleh-oleh di tempat kerajikan kulit di Garut. Cukup sulit mencari jaket kulit untuk Hani dan Bapak, well tadinya aku juga mau beli satu, tapi karena tidak sesuai dengan harganya akhirnya ak cukup membeli tas kulit saja seharga Rp 350.000. Setelah berputar kesana kemari, akhirnya Hani mendapatkan satu jaket kulit yang cukup bagus (pilihanku) seharga Rp 625 000 dan bapakku juga sama…
Setelah puas berputar-putar di pasar kerajinan kulit tersebut kami kembali ke hotel dan mulai berendam di air panas hotel tersebut, ,maklumlah kan daerah Cipanas Garut memang terkenal dengan air panasnya hehehe… ya tentunya kami manfaatkan. Saking asiknya berendam kami tidak sadar kalau jam sudah menunjukan 9 malam, dan petugas sudah mengurangi volume airnya, yang sadar duluan itu ibuku… karena dia jago berenang tanpa sadar lama-lama tangannya mulai menyentuh dasar kolam hahaha… jadi mirip ikan yang kehabisan air, dan akhirnya usailah kami berendam di air panas itu.
Setelah selesai berenang kami kembali ke rumah, menonton dan bercengkrama bersama keluarga besar sambil menikmati makan malam berupa, goreng ayam kampong… huaaah nikmatnyaaaa……
Minggu, 10 April 2011
Kamis, 07 April 2011
Antrian Bank BagaikanAntrian Mendapatkan Sembako Gratis!
Kejadianini bermulai di awal pagi hari Kamis yang cerah, awalnya saya malas sekali untuk datang ke Bank sebut saja A, (kaya tokoh jahat saja yaaa hahaha), Karena ibu saya ketakutan uang yang selama 8 tahun saya tabung menghilang karena diotak-atik, akhirnya pergila saya bersama kakek saya kesana.
Dari kecil saya memang disuruh untuk belajar menabung oleh ibu saya, nah karena bank tersebut merupakan bank satu-satunya yang berada di Bojongg Gede, akhirnya saya pun terpaksa menitipkan uang disana, namanya usia belia yang belum memiliki KTP, alhasil ibu saya lah yang menandatangai buku tabungan saya dan adik saya itu.
Berbulan-bulan uang tersebut tidak pernah saya sentuh, tanpa sadar saya sudah beranjak dewasa, dan sudah memiliki KTP (HOREEEE),setelah saya kuliah, barulah ibu saya teringat akan uang yang ada di Bank A tersebut, namun, lagi-lagi karena saya kuliahnya jauh, akhirnya uang tersebut terbengkalai kembali (kasian tu uang, pasti kesepian ga dijenguk pemiliknya...)
Nah, setelah saya lulus dan sedang mencari pekerjaan, ibu saya teringat kembali akan uang tersebut, jadilah pada hari itu berpanas-panasan saya dan kakek saya terpaksa ikut mengambil nomer lotre...eh salah maksudnya no antrian bank itu, Oh ya, keadaan saya waktu itu kebetulan sedang tidak enak badan, alias sakit.
Saat itu saya datang sekitar pukul setengah 8 pagi, dan bank A ini belum buka, ketika saya ingin bertanya apakah uang saya yang 8 tahun tidak pernah dijenguk itu masih ada? belum sempat bertanya, si Satpam sudah memberikan saya tiket lotre... dengan no urut 114. BO! sungguh sangat kaget, bayangkan bank nya belum buka, namun antriannya sudah sampai 114, bagaimana siang nanti???
Entah bagaimana mungkin shok saya langsung ketahuan oleh si Satpam itu, kemudian dia dengan tersenyum manis (iii Amit-amit) dia bilang "Maaf Mba karena no nya masih lama, ntar datang lagi aja sekitar jam 10 siang". Krena shok saya hanya bisa tersenyum dan kembali ke parkiran di mana kakek saya menunggu, ketika saya menceritakan bahwa no saya 114, Kakek cma tersenyum dan bilang "mungkin sekarang ada pembagian jatah pensiun, jadi rame deh". Jadi, pulang deh aku...
Kebetulan karena ga enak badan, pagi itu sebelum ke bank aku mampir ke dokter dulu, dan diberikan obat, karena aku fikir jam 10 itu masih lama, jadi aku minum lah obatnya, bener saja tak lama kemudian sambil iseng-iseng browsing, aku ketiduran.... zzzzzzz
setelah beberapa lama, ternyata sudah mau jam 10,langsung saja ak meminta kakek untuk segera mengantarku ke bank A, sudah buru-buru, ternyata sampai disana antriannya baru jalan sampe dengan 60... ckckckck... Lelet bener.... dan yang lebih merana lagi, banyak para orang tua yang mengantri bahkan sampai keluar ruang tunggu bank tersebut (apa karena bank kecil yaaa?)
Aku kembali ke tempat kakek menunggu, yaitu di parkiran, karena kemungkinan menurut satpam akan ada waktu sekitar 1 setengah jam lagi, akhirnya ak disuruh menunggu di samping kakek, tepatnya di parkiran (diulang yaaa, PARKIRAN! panas... huufff)
Akhirnya aku duduk di samping seorang nenek, karena bingung akhirnya aku bertanya kepadanya, "nek, antrian berapa?". Dengan tenangnya sang nenek menjawab "no 145, ade no berapa?"... ya ampuun, nenek ini aja udah antrian 145 masih dengan santai menunggu diluar, papanasan, sedangkan aku yang no 1ntrian 114 sudah keberingat, mana yakin ga bakalan sampe dipanggil ini...
Ketika bertanya kembali "nek kenapa ga pulang dulu aja, saya aja yang no antriannya 114, masih satu jam lagi, apalagi nenek, panas kan?". Dia hanya tersenyum dan menjawab "habis nenek lagi butuh uang si... biasanya si ga gini, katanya si pelayannya cuma dua hari ini, padahal sekarang memang waktunya gajian PNS"
wo wo wo... memang yaaa padahal ini adalah bank salah satu milik pemerintah, memang si letaknya di desa, tapi masa untuk hari yang menurut para orang tua ini penting mereka tidak bersiap? masa hanya 2 orang yang mengurusi semua nabah yang sampai beratus-ratus orang itu, harus sampai kapan mereka menungggu?
Apalagi disaat memang banyak orang yang membutuhkan, terutama kalau cuma mau tanya "mba uang saya yang selama 8 tahun saya simpan disini, dan tidak diotak-atik masih ada ga?" masa cuma begitu aja harus ikutan mengantri? ckckckck...
Karena tidak sabar, dan keadaan di tubuhku mulai memburuk, akhirnya ak mendatangi si satpam dengan tertatih-tatih (lebay...), dan bertanya mengenai uang ku itu. Dia lantas meminta aku menunjukan buku tabungan yang sudah jadul tersebut, tak disangka, dia ikutan kaget juga, dia bilang "wah ini buku tabungan lama banget ya?". He... ak cuma bisa ikutan senyum aja deh, lalu dia ke dalam, tak beberapa lama kemudian dia keluar lagi dan cukup bilang "mba, uangnya masih ada, tapi kalau mau tutup tabungan harus sama ibu, soalnya yang ttd disini kan ibu".
Ha dan akhirnya ak pergi meninggalkan bank A dengan ekspresi yang ....
Dari kecil saya memang disuruh untuk belajar menabung oleh ibu saya, nah karena bank tersebut merupakan bank satu-satunya yang berada di Bojongg Gede, akhirnya saya pun terpaksa menitipkan uang disana, namanya usia belia yang belum memiliki KTP, alhasil ibu saya lah yang menandatangai buku tabungan saya dan adik saya itu.
Berbulan-bulan uang tersebut tidak pernah saya sentuh, tanpa sadar saya sudah beranjak dewasa, dan sudah memiliki KTP (HOREEEE),setelah saya kuliah, barulah ibu saya teringat akan uang yang ada di Bank A tersebut, namun, lagi-lagi karena saya kuliahnya jauh, akhirnya uang tersebut terbengkalai kembali (kasian tu uang, pasti kesepian ga dijenguk pemiliknya...)
Nah, setelah saya lulus dan sedang mencari pekerjaan, ibu saya teringat kembali akan uang tersebut, jadilah pada hari itu berpanas-panasan saya dan kakek saya terpaksa ikut mengambil nomer lotre...eh salah maksudnya no antrian bank itu, Oh ya, keadaan saya waktu itu kebetulan sedang tidak enak badan, alias sakit.
Saat itu saya datang sekitar pukul setengah 8 pagi, dan bank A ini belum buka, ketika saya ingin bertanya apakah uang saya yang 8 tahun tidak pernah dijenguk itu masih ada? belum sempat bertanya, si Satpam sudah memberikan saya tiket lotre... dengan no urut 114. BO! sungguh sangat kaget, bayangkan bank nya belum buka, namun antriannya sudah sampai 114, bagaimana siang nanti???
Entah bagaimana mungkin shok saya langsung ketahuan oleh si Satpam itu, kemudian dia dengan tersenyum manis (iii Amit-amit) dia bilang "Maaf Mba karena no nya masih lama, ntar datang lagi aja sekitar jam 10 siang". Krena shok saya hanya bisa tersenyum dan kembali ke parkiran di mana kakek saya menunggu, ketika saya menceritakan bahwa no saya 114, Kakek cma tersenyum dan bilang "mungkin sekarang ada pembagian jatah pensiun, jadi rame deh". Jadi, pulang deh aku...
Kebetulan karena ga enak badan, pagi itu sebelum ke bank aku mampir ke dokter dulu, dan diberikan obat, karena aku fikir jam 10 itu masih lama, jadi aku minum lah obatnya, bener saja tak lama kemudian sambil iseng-iseng browsing, aku ketiduran.... zzzzzzz
setelah beberapa lama, ternyata sudah mau jam 10,langsung saja ak meminta kakek untuk segera mengantarku ke bank A, sudah buru-buru, ternyata sampai disana antriannya baru jalan sampe dengan 60... ckckckck... Lelet bener.... dan yang lebih merana lagi, banyak para orang tua yang mengantri bahkan sampai keluar ruang tunggu bank tersebut (apa karena bank kecil yaaa?)
Aku kembali ke tempat kakek menunggu, yaitu di parkiran, karena kemungkinan menurut satpam akan ada waktu sekitar 1 setengah jam lagi, akhirnya ak disuruh menunggu di samping kakek, tepatnya di parkiran (diulang yaaa, PARKIRAN! panas... huufff)
Akhirnya aku duduk di samping seorang nenek, karena bingung akhirnya aku bertanya kepadanya, "nek, antrian berapa?". Dengan tenangnya sang nenek menjawab "no 145, ade no berapa?"... ya ampuun, nenek ini aja udah antrian 145 masih dengan santai menunggu diluar, papanasan, sedangkan aku yang no 1ntrian 114 sudah keberingat, mana yakin ga bakalan sampe dipanggil ini...
Ketika bertanya kembali "nek kenapa ga pulang dulu aja, saya aja yang no antriannya 114, masih satu jam lagi, apalagi nenek, panas kan?". Dia hanya tersenyum dan menjawab "habis nenek lagi butuh uang si... biasanya si ga gini, katanya si pelayannya cuma dua hari ini, padahal sekarang memang waktunya gajian PNS"
wo wo wo... memang yaaa padahal ini adalah bank salah satu milik pemerintah, memang si letaknya di desa, tapi masa untuk hari yang menurut para orang tua ini penting mereka tidak bersiap? masa hanya 2 orang yang mengurusi semua nabah yang sampai beratus-ratus orang itu, harus sampai kapan mereka menungggu?
Apalagi disaat memang banyak orang yang membutuhkan, terutama kalau cuma mau tanya "mba uang saya yang selama 8 tahun saya simpan disini, dan tidak diotak-atik masih ada ga?" masa cuma begitu aja harus ikutan mengantri? ckckckck...
Karena tidak sabar, dan keadaan di tubuhku mulai memburuk, akhirnya ak mendatangi si satpam dengan tertatih-tatih (lebay...), dan bertanya mengenai uang ku itu. Dia lantas meminta aku menunjukan buku tabungan yang sudah jadul tersebut, tak disangka, dia ikutan kaget juga, dia bilang "wah ini buku tabungan lama banget ya?". He... ak cuma bisa ikutan senyum aja deh, lalu dia ke dalam, tak beberapa lama kemudian dia keluar lagi dan cukup bilang "mba, uangnya masih ada, tapi kalau mau tutup tabungan harus sama ibu, soalnya yang ttd disini kan ibu".
Ha dan akhirnya ak pergi meninggalkan bank A dengan ekspresi yang ....
Sabtu, 02 April 2011
serunya menyaksikan pelatihan CPNS KKP 2011
Hari itu adalah hari Minggu...meskipun sudah malam namun syukurlah langit malam masih cerah. Malam itu sekitar pukul 01.00, saya dan ibu saya pergi untuk melihat pelatihan dan pelantikan bagi para CPNS Kementrian Kelautan dan Perikanan(KKP),yang dilaksanakan di daerah Cibubur
Kami datang pada saat itu dengan diam-diam, karena sebelumnya panita menitipkan pesan apabila mau datang jangan sampai ketahuan oleh para peserta pelatihan. Kami sampai sekitar pukul 02.00 pagi, rencananya mereka (para CPNS) akan dibangunkan sekitar pukul 2.45 pagi, karena menurut panita waktu tersebut adalah waktu saat semua orang sedang asik tidur.
Ketika kami sampai,disana masih sangat sepi, kami bahkan sempat bingung dimana lokasi tempat para panitia menetap. Setelah memarkir mobil, saya dan ibu saya dengan perlahan berjalan-jalan sebentar untuk melihat kira-kira rumah mana yang digunakan oleh para panitia.
Tidak seberapa lama kami berjalan, tiba-tiba datanglah salah satu teman ibu saya, yang ternyata merupakan salah satu panitia juga. Akhirnya dibawalah kami ke tempat dimana nantinya para angkatan laut membangunkan para CPNS.
Nah, sekitar pukul 2.30 pagi, Para CPNS itu dibangunkan dengan menggunakan sirine dari mobil pengawas disertai suara-suara tembakan. (Seru juga...)
Bagaikan suara petasan, suara tembakan tersebut tidak henti-hentinya berbunyi seperti perang... Kemudian beberapa pelatih mulai menggebrak-gebrak barak para CPNS tersebut. Diiringi dengan suara tembakan, para CPNS itu keluar dengan terburu-buru sebagian bahkan ada yang tidak mengenakan pakaian. setelah mereka berbaris, kapten menugaskan mereka untuk melengkapi atribut yang seharusnya mereka kenakan.
Kemudian mereka disuruh untuk berguling-guling di tanah dengan iringan suara senapan. Setelah selesai latihan mereka diperintahkan untuk berjalan jongkok ke lapangan yang lebih besar untuk mendapatkan pelatihan berikutnya. Seiring dengan pelatihan tersebut tidak jarang para pelatih meneriakan kata akan mencambuk mereka bila tidak mau menurut.
Saking galaknya para pelatih tersebut, bahkan ada dari salah satu CPNS yang berasal dari Pemda Kalimantan Selatan yang melarikan diri dari pelatihan. Menurut salah satu pantia disana, pelatihan ini berguna untuk melatih mental mereka untuk nanti berhadapan dengan para perompak atau kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia dengan illegal.
Pelatihan ini tidak hanya untuk para ABK namun ini juga berlaku untuk para calon pengawas dermaga. Ada hal unik yang saya lihat ketika berada disana, ketika mereka berguling-guling di tanah, pelatih selalu menyerukan kata “ombak ke kanan! Ombak ke kiri!” yang berarti guling ke kanan dan guling ke kiri. ketika sedang asyik memperhatikan mereka, tiba-tiba dari arah belakang saya terdengar suara ledakan, hal itu sempat membuat saya kaget.
Ada lagi seorang CPNS wanita yang selalu tidak berhasil menggunakan gespernya dengan benar sehingga salah satu pelatihnya membantu memasangkan gesper tersebut namun tetap di beri hukuman skotjam. Namun sayangnya saya dan ibu saya tidak ikut sampai sesi pembaretan karena ibu saya harus ke pergi ke kantor.
Kami datang pada saat itu dengan diam-diam, karena sebelumnya panita menitipkan pesan apabila mau datang jangan sampai ketahuan oleh para peserta pelatihan. Kami sampai sekitar pukul 02.00 pagi, rencananya mereka (para CPNS) akan dibangunkan sekitar pukul 2.45 pagi, karena menurut panita waktu tersebut adalah waktu saat semua orang sedang asik tidur.
Ketika kami sampai,disana masih sangat sepi, kami bahkan sempat bingung dimana lokasi tempat para panitia menetap. Setelah memarkir mobil, saya dan ibu saya dengan perlahan berjalan-jalan sebentar untuk melihat kira-kira rumah mana yang digunakan oleh para panitia.
Tidak seberapa lama kami berjalan, tiba-tiba datanglah salah satu teman ibu saya, yang ternyata merupakan salah satu panitia juga. Akhirnya dibawalah kami ke tempat dimana nantinya para angkatan laut membangunkan para CPNS.
Nah, sekitar pukul 2.30 pagi, Para CPNS itu dibangunkan dengan menggunakan sirine dari mobil pengawas disertai suara-suara tembakan. (Seru juga...)
Bagaikan suara petasan, suara tembakan tersebut tidak henti-hentinya berbunyi seperti perang... Kemudian beberapa pelatih mulai menggebrak-gebrak barak para CPNS tersebut. Diiringi dengan suara tembakan, para CPNS itu keluar dengan terburu-buru sebagian bahkan ada yang tidak mengenakan pakaian. setelah mereka berbaris, kapten menugaskan mereka untuk melengkapi atribut yang seharusnya mereka kenakan.
Kemudian mereka disuruh untuk berguling-guling di tanah dengan iringan suara senapan. Setelah selesai latihan mereka diperintahkan untuk berjalan jongkok ke lapangan yang lebih besar untuk mendapatkan pelatihan berikutnya. Seiring dengan pelatihan tersebut tidak jarang para pelatih meneriakan kata akan mencambuk mereka bila tidak mau menurut.
Saking galaknya para pelatih tersebut, bahkan ada dari salah satu CPNS yang berasal dari Pemda Kalimantan Selatan yang melarikan diri dari pelatihan. Menurut salah satu pantia disana, pelatihan ini berguna untuk melatih mental mereka untuk nanti berhadapan dengan para perompak atau kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia dengan illegal.
Pelatihan ini tidak hanya untuk para ABK namun ini juga berlaku untuk para calon pengawas dermaga. Ada hal unik yang saya lihat ketika berada disana, ketika mereka berguling-guling di tanah, pelatih selalu menyerukan kata “ombak ke kanan! Ombak ke kiri!” yang berarti guling ke kanan dan guling ke kiri. ketika sedang asyik memperhatikan mereka, tiba-tiba dari arah belakang saya terdengar suara ledakan, hal itu sempat membuat saya kaget.
Ada lagi seorang CPNS wanita yang selalu tidak berhasil menggunakan gespernya dengan benar sehingga salah satu pelatihnya membantu memasangkan gesper tersebut namun tetap di beri hukuman skotjam. Namun sayangnya saya dan ibu saya tidak ikut sampai sesi pembaretan karena ibu saya harus ke pergi ke kantor.
Langganan:
Komentar (Atom)
