Minggu, 10 April 2011

Liburan Di Hotel Danau Dzariza

Part 1

horeeee…. tanggal 9 April lalu aku liburan di Garut bersama orang tuaku… kami mulai berangkat pukul 6: 30, padahal rencananya mau berangkat jam 6:00 haha… ngeret sengah jam. Well ga papa lah. Selama perjalanan menuju tol Cileunyi Aku, Hani, dan Angky tidur sepanjang perjalanan. Apalagi Hani, dia si begitu masuk mobil langsung tertidur, maklumlah katanya dia ga tidur semalam (memperbaiki laptopnya jadi harus ke Bogor dulu).

Aku dan adik-adiku mulai terbangun kembali ketika sudah terbentang sawah menghampar… bahkan teringat kenangan sewaktu pertama kali aku ke Garut bersama pacar untuk pertama kali (well waktu itu dia masih belum menjadi pacarku). Ada satu masjid yang mengingatkanku bersamanya, yaitu ketika aku menunggunya mengisi bensin alias motornya sempat mogok karena kehabisan bensin jadilah aku menunggunya di masjid tersebut hihihi…

Ketika aku melihat Gunung Guntur, kembali teringat kenangan ketika pertama kali aku dan pacarku kesana, masa kami dianggap mau berbuat mesuk, padahal saat itu kami hanya mengecek apakah gunung tersebut aman apabila ingin berkemah atau tidak, karena kami pernah mendengar bahwa gunung Guntur merupakan salah satu pegunungan yang sering digunakan untuk berkemah, waktu itu kami malah ditawari hotel disekitar Cipanas… (haha… penduduk yang aneh…)

Yah, kembali ke perjalananku dan keluarga ku, setelah melewati gunung Guntur aku kembali tertidur, hahahaha…. nah ketika melewati Cipanas, mobil kami sempat terhenti sebentar karena ayahku masih tidak tau dimana letak Hotel Danau Dzariza itu, sehingga kami terpaksa bertanya ke penduduk sekitar. Ada hal yang lucu ketika kami sedang kesulitan mencari letak hotel kami itu. Sejak awal perjalanan, ayahku menggunakan GPS, dan GPS itu selalu mengeluarkan suara seperti “1 km di depan belok ke kanan” dan lain sebagainya.

Nah, untuk lokasi hotel ini karena baru pertama kali mau kesana, otomatis dia pun tidak tau letaknya dimana, sehingga tidak jarang dia selalu bersuara “menghitung ulang” terus-terusan seakan-akan ayahku dimarahin karena salah jalan. hahaha…

Akhirnya setelah perjalanan yang panjang sampailah kami di hotel Dzariza. Hotelnya cukup bagus, benar-benar ada danau, mirip rumah-rumah panggung dan setiap rumah memiliki satu perahu, yang dikaitkan di tangga rumah masing-masing. Kami sempat berfoto-foto di perahu tersebut sekaligus merayakan ulangtahun perkawinan perak orang tua ku ehehehe….


Setelah agak lelah, kami beristirahat sebentar dikamar dengan menonton tv, tak lama kemudian datanglah saudara kami yang berasal dari Garut juga, ketika mereka datang semangat muncul lagi, jadi kami mulai berjalan-jalan mengelilingi hotel bersama-sama. Mulai dari menjelajahi danau dzariza, naik bebek-bebekan (waterbike), kemudian berfoto-foto di sekitar jembatan gantung, disana juga ada flying fox, sayangnya kami tidak bisa naik karena sudah dipesan oleh beberapa perusahaan yang sama-sama sedang melakukan liburan disana.


Sehabis berfoto-foto tidak terasa waktu sudah bertambah sore, akhirnya kami mulai mencari oleh-oleh di tempat kerajikan kulit di Garut. Cukup sulit mencari jaket kulit untuk Hani dan Bapak, well tadinya aku juga mau beli satu, tapi karena tidak sesuai dengan harganya akhirnya ak cukup membeli tas kulit saja seharga Rp 350.000. Setelah berputar kesana kemari, akhirnya Hani mendapatkan satu jaket kulit yang cukup bagus (pilihanku) seharga Rp 625 000 dan bapakku juga sama…

Setelah puas berputar-putar di pasar kerajinan kulit tersebut kami kembali ke hotel dan mulai berendam di air panas hotel tersebut, ,maklumlah kan daerah Cipanas Garut memang terkenal dengan air panasnya hehehe… ya tentunya kami manfaatkan. Saking asiknya berendam kami tidak sadar kalau jam sudah menunjukan 9 malam, dan petugas sudah mengurangi volume airnya, yang sadar duluan itu ibuku… karena dia jago berenang tanpa sadar lama-lama tangannya mulai menyentuh dasar kolam hahaha… jadi mirip ikan yang kehabisan air, dan akhirnya usailah kami berendam di air panas itu.

Setelah selesai berenang kami kembali ke rumah, menonton dan bercengkrama bersama keluarga besar sambil menikmati makan malam berupa, goreng ayam kampong… huaaah nikmatnyaaaa……

Kamis, 07 April 2011

Antrian Bank BagaikanAntrian Mendapatkan Sembako Gratis!

Kejadianini bermulai di awal pagi hari Kamis yang cerah, awalnya saya malas sekali untuk datang ke Bank sebut saja A, (kaya tokoh jahat saja yaaa hahaha), Karena ibu saya ketakutan uang yang selama 8 tahun saya tabung menghilang karena diotak-atik, akhirnya pergila saya bersama kakek saya kesana.

Dari kecil saya memang disuruh untuk belajar menabung oleh ibu saya, nah karena bank tersebut merupakan bank satu-satunya yang berada di Bojongg Gede, akhirnya saya pun terpaksa menitipkan uang disana, namanya usia belia yang belum memiliki KTP, alhasil ibu saya lah yang menandatangai buku tabungan saya dan adik saya itu.

Berbulan-bulan uang tersebut tidak pernah saya sentuh, tanpa sadar saya sudah beranjak dewasa, dan sudah memiliki KTP (HOREEEE),setelah saya kuliah, barulah ibu saya teringat akan uang yang ada di Bank A tersebut, namun, lagi-lagi karena saya kuliahnya jauh, akhirnya uang tersebut terbengkalai kembali (kasian tu uang, pasti kesepian ga dijenguk pemiliknya...)

Nah, setelah saya lulus dan sedang mencari pekerjaan, ibu saya teringat kembali akan uang tersebut, jadilah pada hari itu berpanas-panasan saya dan kakek saya terpaksa ikut mengambil nomer lotre...eh salah maksudnya no antrian bank itu, Oh ya, keadaan saya waktu itu kebetulan sedang tidak enak badan, alias sakit.

Saat itu saya datang sekitar pukul setengah 8 pagi, dan bank A ini belum buka, ketika saya ingin bertanya apakah uang saya yang 8 tahun tidak pernah dijenguk itu masih ada? belum sempat bertanya, si Satpam sudah memberikan saya tiket lotre... dengan no urut 114. BO! sungguh sangat kaget, bayangkan bank nya belum buka, namun antriannya sudah sampai 114, bagaimana siang nanti???

Entah bagaimana mungkin shok saya langsung ketahuan oleh si Satpam itu, kemudian dia dengan tersenyum manis (iii Amit-amit) dia bilang "Maaf Mba karena no nya masih lama, ntar datang lagi aja sekitar jam 10 siang". Krena shok saya hanya bisa tersenyum dan kembali ke parkiran di mana kakek saya menunggu, ketika saya menceritakan bahwa no saya 114, Kakek cma tersenyum dan bilang "mungkin sekarang ada pembagian jatah pensiun, jadi rame deh". Jadi, pulang deh aku...

Kebetulan karena ga enak badan, pagi itu sebelum ke bank aku mampir ke dokter dulu, dan diberikan obat, karena aku fikir jam 10 itu masih lama, jadi aku minum lah obatnya, bener saja tak lama kemudian sambil iseng-iseng browsing, aku ketiduran.... zzzzzzz

setelah beberapa lama, ternyata sudah mau jam 10,langsung saja ak meminta kakek untuk segera mengantarku ke bank A, sudah buru-buru, ternyata sampai disana antriannya baru jalan sampe dengan 60... ckckckck... Lelet bener.... dan yang lebih merana lagi, banyak para orang tua yang mengantri bahkan sampai keluar ruang tunggu bank tersebut (apa karena bank kecil yaaa?)

Aku kembali ke tempat kakek menunggu, yaitu di parkiran, karena kemungkinan menurut satpam akan ada waktu sekitar 1 setengah jam lagi, akhirnya ak disuruh menunggu di samping kakek, tepatnya di parkiran (diulang yaaa, PARKIRAN! panas... huufff)

Akhirnya aku duduk di samping seorang nenek, karena bingung akhirnya aku bertanya kepadanya, "nek, antrian berapa?". Dengan tenangnya sang nenek menjawab "no 145, ade no berapa?"... ya ampuun, nenek ini aja udah antrian 145 masih dengan santai menunggu diluar, papanasan, sedangkan aku yang no 1ntrian 114 sudah keberingat, mana yakin ga bakalan sampe dipanggil ini...

Ketika bertanya kembali "nek kenapa ga pulang dulu aja, saya aja yang no antriannya 114, masih satu jam lagi, apalagi nenek, panas kan?". Dia hanya tersenyum dan menjawab "habis nenek lagi butuh uang si... biasanya si ga gini, katanya si pelayannya cuma dua hari ini, padahal sekarang memang waktunya gajian PNS"

wo wo wo... memang yaaa padahal ini adalah bank salah satu milik pemerintah, memang si letaknya di desa, tapi masa untuk hari yang menurut para orang tua ini penting mereka tidak bersiap? masa hanya 2 orang yang mengurusi semua nabah yang sampai beratus-ratus orang itu, harus sampai kapan mereka menungggu?

Apalagi disaat memang banyak orang yang membutuhkan, terutama kalau cuma mau tanya "mba uang saya yang selama 8 tahun saya simpan disini, dan tidak diotak-atik masih ada ga?" masa cuma begitu aja harus ikutan mengantri? ckckckck...

Karena tidak sabar, dan keadaan di tubuhku mulai memburuk, akhirnya ak mendatangi si satpam dengan tertatih-tatih (lebay...), dan bertanya mengenai uang ku itu. Dia lantas meminta aku menunjukan buku tabungan yang sudah jadul tersebut, tak disangka, dia ikutan kaget juga, dia bilang "wah ini buku tabungan lama banget ya?". He... ak cuma bisa ikutan senyum aja deh, lalu dia ke dalam, tak beberapa lama kemudian dia keluar lagi dan cukup bilang "mba, uangnya masih ada, tapi kalau mau tutup tabungan harus sama ibu, soalnya yang ttd disini kan ibu".

Ha dan akhirnya ak pergi meninggalkan bank A dengan ekspresi yang ....

Sabtu, 02 April 2011

serunya menyaksikan pelatihan CPNS KKP 2011

Hari itu adalah hari Minggu...meskipun sudah malam namun syukurlah langit malam masih cerah. Malam itu sekitar pukul 01.00, saya dan ibu saya pergi untuk melihat pelatihan dan pelantikan bagi para CPNS Kementrian Kelautan dan Perikanan(KKP),yang dilaksanakan di daerah Cibubur

Kami datang pada saat itu dengan diam-diam, karena sebelumnya panita menitipkan pesan apabila mau datang jangan sampai ketahuan oleh para peserta pelatihan. Kami sampai sekitar pukul 02.00 pagi, rencananya mereka (para CPNS) akan dibangunkan sekitar pukul 2.45 pagi, karena menurut panita waktu tersebut adalah waktu saat semua orang sedang asik tidur.

Ketika kami sampai,disana masih sangat sepi, kami bahkan sempat bingung dimana lokasi tempat para panitia menetap. Setelah memarkir mobil, saya dan ibu saya dengan perlahan berjalan-jalan sebentar untuk melihat kira-kira rumah mana yang digunakan oleh para panitia.

Tidak seberapa lama kami berjalan, tiba-tiba datanglah salah satu teman ibu saya, yang ternyata merupakan salah satu panitia juga. Akhirnya dibawalah kami ke tempat dimana nantinya para angkatan laut membangunkan para CPNS.

Nah, sekitar pukul 2.30 pagi, Para CPNS itu dibangunkan dengan menggunakan sirine dari mobil pengawas disertai suara-suara tembakan. (Seru juga...)

Bagaikan suara petasan, suara tembakan tersebut tidak henti-hentinya berbunyi seperti perang... Kemudian beberapa pelatih mulai menggebrak-gebrak barak para CPNS tersebut. Diiringi dengan suara tembakan, para CPNS itu keluar dengan terburu-buru sebagian bahkan ada yang tidak mengenakan pakaian. setelah mereka berbaris, kapten menugaskan mereka untuk melengkapi atribut yang seharusnya mereka kenakan.
Kemudian mereka disuruh untuk berguling-guling di tanah dengan iringan suara senapan. Setelah selesai latihan mereka diperintahkan untuk berjalan jongkok ke lapangan yang lebih besar untuk mendapatkan pelatihan berikutnya. Seiring dengan pelatihan tersebut tidak jarang para pelatih meneriakan kata akan mencambuk mereka bila tidak mau menurut.



Saking galaknya para pelatih tersebut, bahkan ada dari salah satu CPNS yang berasal dari Pemda Kalimantan Selatan yang melarikan diri dari pelatihan. Menurut salah satu pantia disana, pelatihan ini berguna untuk melatih mental mereka untuk nanti berhadapan dengan para perompak atau kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia dengan illegal.



Pelatihan ini tidak hanya untuk para ABK namun ini juga berlaku untuk para calon pengawas dermaga. Ada hal unik yang saya lihat ketika berada disana, ketika mereka berguling-guling di tanah, pelatih selalu menyerukan kata “ombak ke kanan! Ombak ke kiri!” yang berarti guling ke kanan dan guling ke kiri. ketika sedang asyik memperhatikan mereka, tiba-tiba dari arah belakang saya terdengar suara ledakan, hal itu sempat membuat saya kaget.


Ada lagi seorang CPNS wanita yang selalu tidak berhasil menggunakan gespernya dengan benar sehingga salah satu pelatihnya membantu memasangkan gesper tersebut namun tetap di beri hukuman skotjam. Namun sayangnya saya dan ibu saya tidak ikut sampai sesi pembaretan karena ibu saya harus ke pergi ke kantor.

Selasa, 11 Mei 2010

Kerajaan Berhati Emas

Pada suatu hari, hiduplah seorang permaisuri yang cantik, juga memiliki perangai yang sangat baik hati. Raja dan rakyat sangat mencintainya, namun sayangnya permaisuri tidak memiliki anak. Terkadang Permaisuri sering menangis sendiri karena kesepian dan tiada suara anak-anak kecil di dekatnya, bila ia berjalan-jalan ke desa bersama para pengawalnya, tidak jarang ia merasa iri dengan keadaan ibu-ibu di desanya yang memintanya untuk mendoakan anak-anaknya.

Pada suatu ketika, saat permaisuri sedang dilanda kesepian, permaisuri berjalan-jalan di sepanjang pantai dekat dengan istananya. Ketika ia sedang melamun, datanglah seekor kucing yang sedang hamil. Seketika itu juga permaisuri terpana melihat kucing tersebut. Kucing itu berwarna belang-belang dengan warna-warna yang bersinar seputar tubuhnya. Si kucing tadi hanya melewatinya tanpa menengok sama sekali.

Keesokan harinya, karena penasaran, permaisuri kembali datang mengunjungi pantai di dekat istana, ia pun duduk di tempat yang sama. Dan kali ini, kucing tersebut kembali melewatinya tanpa permaisuri bisa menyentuhnya. “oh tuhan.... betapa pongahnya kucing ini” ujar permaisuri sambil tersenyum.

Ketika untuk yang ke empat kalinya permaisuri melihat si kucing tersebut. Kali ini perut si kucing semakin membesar, dan terlihat jalan si kucing semakin sulit, akhirnya permaisuri dengan iba langsung menghampirinya.

“Wahai kucing cantik, berapa bulan lagi kah anakmu akan lahir?” tanya permaisuri tersebut.

Si kucing hanya menatapnya dan mengeong kemudian berlalu tanpa permaisuri bisa menyentuhnya kembali.

Malamnya, permaisuri bermimpi. Ia memimpikan mendapatkan anak kembar tiga, namun anak ini sungguh berbeda dengan anak yang biasa, ketiga bayi tersebut tampak bersinar dengan indah persis seperti sinar yang ada di tubuh si kucing yang sering ia lihat. Saat itu juga permaisuri langsung bangun dan menceritakannya kepada sang Raja. Mendengar hal tersebut, sang Raja sungguh senang dan langsung bertanya kepada peramal istana apa maksud dari mimpi permaisuri.

Peramal istana yang setia pada Raja dan Permaisuri, kemudian mulai menyiapkan semua bahan untuk menyelidiki arti dari mimpi si peramal. Ia kemudian meminta Raja untuk tidak menggangunya selama 7 hari 7 malam.

Permaisuri yang masih penasaran dengan arti mimpi tersebut, kemudian semakin sering datang ke pantai, namun sejak datangnya mimpi itu, permaisuri tidak pernah melihat kucing itu lagi.

Akhirnya penantian selama 7 hari 7 malam pun usai, peramal istana langsung datang menemui sang Raja dan Permaisuri. Dengan tertawa dan tersenyum dengan gembira, peramal istana berkata. “Wahai Raja dan Permaisuri ku, pada akhirnya hamba telah mendapatkan arti dari mimpi sang permaisuri”

“apa itu wahai peramal istana? Apakah berita baik, ataukah buruk?” tanya sang Raja tidak sabar.

“Berita baik, wahai Rajaku. Sebelumnya, hamba ingin bertanya kepada permaisuri, apakah permaisuri pernah bertemu dengan seekor kucing berwarna belang-belang yang sedang hamil besar dengan warna tubuh yang bersinar?” tanya si peramal.

“Ya benar” sahut permaisuri.

“Wahai Raja ku... kucing tersebut adalah kucing dari khayangan, ia bertugas menyampaikan pesan kepada umat manusia, bahwa sang ratu akan segera hamil” mendengar ini semua orang di istana langsung bertepuk tangan.

“Belum sampai disitu wahai Raja agungku... kemungkinan juga permaisuri akan melahirkan 3 anak kembar dan kucing ini juga mengatakan kepada hamba, kemungkinan bayi sang permaisuri akan sedikit berbeda dengan anak lainnya, menurutnya ini adalah cobaan dari tuhan untuk kita semua” ujar si peramal lagi.

“Cobaan seperti apa itu peramal istana?” tanya Raja penasaran.

“Mohon maaf namun, ia tidak mengatakannya lagi yang mulia” kata si Peramal Istana.

Raja hanya menghela nafas kemudian menjawab. “baiklah maka akan kita tunggu kelahiran anak-anak ku nanti.

Kerajaan Berhati Emas II

Tidak terasa perut sang permaisuri semakin membesar, hingga tibalah hari kelahiran anak-anak kembarnya tersebut. Proses kelahiran sangat sulit karena bayinya seperti bisa bergerak dan mencakar perut permaisuri, setiap kali bayi itu bergerak, permaisuri selalu berteriak, hingga sang Raja yang sangat mencintainya tidak kuasa menahan kesedihan.

Akhirnya tiga bayi kembar yang dinantikan pun telah lahir, sayangnya permaisuri yang baik hati tersebut, tidak dapat bertahan lama dan meninggal dunia. Istana indah yang tadinya penuh kegembiraan pun tiba-tiba dirundung duka. Saat itulah keanehan anak-anak Raja dan Permaisuri terlihat.

“Ayah... Jangan bersedih.... Ibu baik-baik saja disana, bersama malaikat pencipta kita... pesan ibu, jika ayah bersedih nanti, maka ibunda pun kan ikut bersedih di dunia sana” kata salah satu dari bayi tersebut.

Raja dan abdi istana yang lain sangat terkejut mendengar hal ini. Kemudian Raja pun ingat akan ucapan peramal istana bahwa anak-anak dari Raja dan Permaisuri ini memang memiliki keunikan bila dibandingkan dengan anak-anak yang lain
Semakin hari, semakin tumbuhlah ketiga anak tersebut, dan semakin mereka dewasa, sinar dalam diri mereka semakin terlihat. Pernah suatu hari si bungsu dari tiga bersaudara bertanya pada ayahnya. “wahai ayahku sang Raja yang bijaksana, tahukah ayahanda mengapa terkadang ketika kami lewat di pasar, para penduduk sering menengok kami seakan-akan kami ini adalah anak dari malaikat?” tanya nya.

Raja hanya terseyum dengan pertanyaan si bungsu dan menjawab “wajarlah sayang ku, engkau dan kakak-kakakmu adalah anak-anak dari Istana Bahagia, mana mungkin tidak ada penduduk desa yang tidak melirik kalian?” ujarnya.

Tahun ke tahun anak-anak Raja yang sungguh unik tersebut semakin tumbuh dewasa, tampan, dan cantik. Si sulung tumbuh dengan badan yang sangat tegap dan memiliki jiwa memimpin yang sangat hebat, si tengah menjadi gadis yang sangat cantik, seperti permaisuri dahulu, dan memiliki tingkah laku yang sangat bijak sama seperti ayahandanya. Dan si bungsu, memiliki badan yang sangat kecil, namun memiliki ke arifan dan ketampanan yang luar biasa.

Ketika mereka semua sudah beranjak dewasa, mulai banyak negara-negara lain yang merasakan keunikan dari anak-anak Raja dan Permaisuri, sudah banyak negara-negara tetangga yang ingin menjodohkan anak-anak mereka dengan anak-anak Raja dan Permaisuri, namun sayangnya Anak-anak Raja dan Permaisuri selalu memberikan alasan. “belum saatnya wahai Rajaku”.

Karena telalu sering menolak, akhirnya timbulah kebencian di hati kerajaan-kerajaan dari negara-negara lain itu terhadap istana sang Raja dan Permaisuri, mulailah banyak peperangan yang timbul.

Ketika peperangan tersebut, ternyata sang Raja yang telah kehilangan Permaisurinya, terkena panah beracun, dan langsung di tolong oleh anak sulungnya. “Wahai anakku... sebelum ayahmu akan menyusul ibumu.... tolong lindungilah Istana kita, kalau bisa perbesarlah kawasan negara kita tanpa adanya kekerasan.”

“Bagaimana caranya wahai ayahanda?” tanya si sulung sambil menangis. Namun sebelum sang ayahanda mengatakan yang sebenarnya... tiba-tibalah munculah kucing yang pernah ditemui oleh sang Permaisuri dulu, ia langsung muncul dan menerkam marah ke arah si sulung sehingga si sulung pun menjauh dari ayahnya. Kucing itu hanya menengok sekali dan langsung membawa sang Raja pergi dari medan peperangan membiarkan si Sulung yang hanya bisa terdiam terpaku.

Tidak beberapa lama, datang lah si Tengah dan si Bungsu ke arah kakaknya yang terduduk terdiam. “ kakanda, ada apa?” tanya adik-adiknya dengan cemas.

Namun kakaknya tidak dapat berkata apa-apa dan kemudian langsung pingsan.

Setelah sang Raja menghilang, kerajaan semakin kacau. Si sulung yang melihat sendiri bagaimana ayahnya menghilang, berusaha menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada abdi kerajaan, namun setiap kali ia ingin bercerita mulutnya seperti tidak bisa bicara, hingga akhirnya semua orang tidak ada yang percaya padanya.

Si tengah akhirnya dipercaya menjadi seorang ratu yang memimpin, hingga akhirnya ia tidak bisa membantu atau mendengar ocehan apa yang dikeluarkan oleh kakaknya hingga ia juga menganggap bahwa kakaknya sudah gila.

Si bungsu, yang paling kecil dan paling arif sungguh tidak menduga keluarganya akan berubah seperti ini. Hingga pada suatu malam yang terang karena rembulan. Si bungsu dengan diam-diam berjalan-jalan di pantai yang dulu sering dilewati oleh sang Permaisuri.

Karena lelah berjalan-jalan ia akhirnya dudul di sebuah batu di pinggir pantai dan melamun. Ketika ia sedang melamun itulah, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sebuah cahaya terang... dan tiba-tiba dari cahaya itu, munculah sang Permaisuri dengan seekor kucing Putih dengan

Si bungsu terlonjak dari kursinya dan ingin kabur, namun ia sama sekali tidak dapat bergerak. “wahai anakku... jangan lah kau takut...” sahut sang permaisuri. Kemudian Permaisuri menengok ke arah dan ke Kiri. “kemana kakak-kakakmu wahai anakku?”

Si Bungsu yang sudah mulai tenang, kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Permaisuri. Permaisuri hanya mengangguk dan mengatakan. “Seharusnya sang Raja tidak pergi dengan cepat, namun apa boleh buat... kalian adalah anak-anak yang diturunkan dari langit, sama seperti teman yang ada di sebelahku ini, apa kau kenal siapa kucing di sebelahku ini wahai anakku?”

Si Bungsu hanya menggeleng. “dia adalah ayahmu” permaisuri menengok dan meminta suaminya untuk berubah wujud. Sekali lagi si Bungsu menyaksikan dengan takjub. Lalu sang Raja dengan wibawanya yang biasa meminta si Bungsu untuk menyampaikan pesan kepada kakak-kakaknya agar dapat memimpin rakyat menjadi lebih baik.

“Kalian dilahirkan untuk dapat memperbaiki kekacauan yang ada di istana ini, tanpa kalian sadari sebenarnya aku memiliki tiga kerajaan yang tempatnya agak berjauhan, hal ini aku sembunyikan agar tidak ada yang semakin sirik kepada keluarga kita dan bisa tetap melindungi kamu dan saudaramu, sekarang karena yang terjadi ternyata di luar keinginan aku dan ibumu, maka aku harap kamu dan kakak mu bisa mengembalikan ketentraman yang dulu pernah ada”

“Katakan pada kakakmu, ia harus dapat mengurus kerajaan di sebelah Timur, disana pula ia akan menemukan putri yang akan dinikahinya nanti dan rakyat pun akan percaya padanya, Kakakmu yang lain harus mengurus kerajaan di sebalah Barat, dimana akan ada seorang pangeran yang akan melamarnya nanti, dan kamu sendiri akan memimpin kerajaan ini”

Tidak lama setelah sang Raja dan Permaisuri mengatakan hal tersebut mereka pun langsung menghilang secara tiba-tiba. Dengan susah payah, akhirnya si Bungsu segera pulang dan menyampaikan pesan orang tua mereka kepada kakak-kakaknya.

Akhirnya setelah bertanya kepada si peramal istana yang sudah semakin tua, namun memiliki indra keenam yang masih sangat tajam, kakak-kakaknya pun langsung berangkat ke negeri yang berbeda untuk memiliki istana yang disebutkan oleh orang tua mereka dan bahagia selamanya. Bagaimana dengan nasib si Bungsu? Si Bungsu walaupun memiliki tubuh yang tidak tegap seperti kakak pertamanya, dan tidak juga memiliki ketegasan yang sama seperti kakaknya yang kedua, namun ia memiliki kewibawaan seperti sang Raja dan Kebaikan sang Permaisuri, hingga Rakyat merasa dipimpin oleh Raja dan Permaisuri yang terdahulu. Keunikan lain dari tiga bersaudara ini adalah semakin mereka berbuat baik terhadap masing-masing rakyatnya semakin bersinarlah tubuh dan istana mereka, oleh karena itu kerajaan dari tiga bersaudara ini sering disebut sebagai kerajaan berhati emas.

The End

Petualangan Kelinci

11 Mei 2010
Pagi hari kelinci terbangun karena ada merpati pos yang mengetuk-ngetuk jendelanya.
Kelinci: apa ini? surat lagi?

Merpati pos: ya... begitulah...baca aja…
Dan kelinci pun membuka suratnnya, ternyata itu dari salah satu sahabatnya Beruang putih. Isi Suratnya:

“Dear kelinci… maaf ya sepertinya hari ini aku ga bisa mengantarkan mu ke perpustakaan, tiba-tiba saja ada acara keluarga dan aku harus ikut… lain kali saja kita jalan-jalan lagi, gimana?”

Kelinci yang membacanya dengan mata mengantuk, langsung membuka matanya lebar-lebar dan membaca suratnya untuk kedua kalinya. “ya ampun… aku sudah merencanakan untuk pergi dengannya sudah lama, kami tinggal berdekatan, tapi satu kalipun dia sudah tidak pernah berkunjung, dan sekarang dia kembali membatalkan janji untuk menemani aku?? god! sebal!!!!” teriaknya keras-keras.

Merpati: “Jangan keras-keras sayang, kau bisa membangunkan seluruh keluargamu”

Kelinci: “ Ya! tapi aku jadi sangat kesal kepadanya! tidak bisa kah dia ada waktu untukku sebentar saja, masa demi si Gajah dia mau dan demi aku yang sudah kenal lebih lama darinya dia tidak mau? hanya untuk satu hari saja?”

Merpati pos (menguap) : “cepatlah balas, aku masih banyak pekerjaan neh…”

Sambil masih menggerutu, akhirnya si kelinci hanya membalas surat si beruang putih dengan tulisan “ok see u” dan berjanji tidak akan meminta tolong lagi padanya….

setelah itu Kelinci langsung beranjak dari kasurnya dan ke kamar mandi untuk bertemu dengan penjaga perpustakaan dan meminta Koran yang dimintanya untuk tugas sekolah esok hari. saat itu kelinci benar-benar kesal! but dia bisa menutupinya dari semua keluarganya.

sampai di perpustakaan, seperti biasa dia disambut dengan ramah oleh si penjaga, yang langsung menunjukan dimana dia bisa mengambil Koran yang sudah dia pilih2 kemarin, kemudian menyerahkannya kepada penjaga perpustakaan dia langsung berkomentar, “wah banyak banget de yang mau di fotocopi?”

kelinci hanya menjawabnya sambil tersenyum. “well semuanya buat sekolah saya mba, hehehe” jawabnya, “ngomong-ngomong fotocopi yang terdekat ada dimana ya? saya ingin segera beres neh?”

penjaga perpustakaan, “ada di dekat gang sebelah” jawabnya.

kelinci pun langsung beranjak dan segera ke tempat foto copian, sesampainya disana ternyata tukang fotocopi tersebut tidak bisa membuat fotocopian tersebut, sehingga kelinci pun mencari tempat fotocopian berikutnya yang bisa memfotocopi Koran tersebut. setelah mencari di beberapa tempat dengan membawa 40 koran, kelinci akhirnya menyadari ternyata menjadi tukang Koran sama sekali tidak enak, “uh baru 40 koran saja, rasanya sudah sangat melelahkan, apalagi sampai seperti tukang Koran?” ujarnya dalam hati.

sepanjang perjalanan itu, dia selalu bertemu dengan berbagai macam hewan lain, dan hewan lain selalu menatapnya bertany-tanya untuk apa kelinci yang sangat mungil membawa Koran sebanyak 40 lembar? dan setiap kali ditanya kelinci hanya menjawab “tugas….!” sahutnya.

Akhirnya sampailah dia di sebuah fotocopian, yang sangat besar, begitu sampai dia langsung meletakkan Koran itu dimeja pelangan fotokopian, dia langsung bertanya kepada si pedagang, apakah dia bisa memfotokopi 40 koran yang dia bawa, syukurlah si pelayan langsung menjawab bisa, namun sayangnya sang kelinci harus membayar sangat mahal untuk hasilnya.

karena Koran itu sangat banyak, pelayan meminta kelinci untuk menunggu di rumah karena akan memakan waktu yang sangat lama untuk memfotocopi Koran tersebut. karena rumah si kelinci sangat jauh dari tempat fotocopian tersebut, akhirnya dia pergi ke rumah eyangnya dan menunggu kabar dari tempat fotocopian. sambil menunggu dengan iseng dia mengirim surat kepada kk sepupunya, untuk bisa mengantarnya ke tempat fotocopian dan mengantarnya ke perpustakaan untuk mengembalikan Koran tersebut. kelinci sangat lelah hari ini karena harus bolak-balik perpustakaan dan tempat fotocopian.

tak beberapa lama kk sepupunya datang dan langsung mengantarkannya ke tempat fotocopian, dan kembali ke perpustakaan, setelah beres kelinci pun pulang. Ketika sampai di rumah dia langsung tertidur di kamarnya….

“UH,… Lelahnya…..zzzzzzzzzz” sahut kelinci….

***THE END***

Minggu, 09 Mei 2010

Tolong! Kelinci Diculik!

Lanjutan Kisah Kelinci, Koala, Harimau, dan Beruang Madu

Part I :Penculikan Kelinci


Hari itu adalah hari Minggu, hari ini ia memiliki janji dengan sahabatnya sang koala untuk pergi ke pasar bersama. Kelinci teringat, minggu lalu ia sempat kemping bersama sahabatnya yang lain yaitu Harimau dan Beruang Madu, namun minggu ini nampaknya hanya ia dan Koala saja yang bisa bersama-sama. Saat ia sedang berjalan-jalan bersama Koala, tiba-tiba dia mendapat kabar dari merpati pos kalau teman-temannya yang lain (Harimau dan Beruang Madu) sedang berada di pegunungan menemani Bu Guru. Harimau bertanya kepada kelinci, “lagi ada dimana?”. “Dipasar bersama dengan Koala, kenapa?” sahut Kelinci. “Kami sedang ada di gunung nih, menemani bu guru, semalam dia ajak kita kemping jadi jalan deh, tapi kami jadi ingat kalian!” katanya.

Sementara itu, disampingku Koala hanya tersenyum-senyum saja, dan tiba-tiba bertanya pada sang kelinci. “Harimau, sms kamu ya?”. Kelinci hanya mengngguk, kemudian balik bertanya, “dia juga sms kamu?”. Koala mengangguk sambil senyam-senyum sendiri. “dia Tanya apa kita mau dijemput pulang dari pasar?”. Kelinci menengok ke kiri dan kanannya kemudian berkata, “tapi kita kan sedang bersama temanmu, masa kita meninggalkan dia, tapi kalau kamu lelah berjalan, kamu pulang aja sama temanmu dijemput oleh si Harimau dan Beruang madu.
Koala menggeleng, “ga enak ah, kita kan jalan awal bertiga, masa salah satu mau ditinggalkan. Akhirnya si Kelinci pun memberikan pesan pada Merpati Pos untuk mengatakan pada sang Harimau dan Beruang madu, agar tidak usah menjemput mereka. Sepulangnya dari pasar, Kelinci main sebentar ke rumah Koala, dan kemudian pulang ke rumahnya.

Menjelang siang hari, Kelinci mulai merasa bosan, namun untuk menghalau kebosanannya tersebut, Kelinci pun mencoba untuk sedikit merapikan kamarnya, mengerjakan tugas-tugas yang belum sempat ia kerjakan. Sedang asik-asiknya mengerjakan tugas, tiba-tiba jendela kamarnya ada yang mengetuk, Kelinci kaget kemudian, dengan perlahan ia membuka kaca jendelanya, dan ternyata ada seekor Merpati pos dengan surat di paruhnya. “Hei Kelinci, kau mendapatkan surat lagi nih, dari sang Harimau”. Kelinci pun cepat-cepat mengambil surat dari paruh si Merpati Pos. “Kami mau ke kosan mu ya! kau ada kan?” tulis surat tersebut. Kelnci cepat-cepat membalas surat tersebut dan memberikannya kepada Merpati Pos kembali.
Selang beberapa menit, muncullah surat kedua dari Harimau, “ok satu jam lagi kami akan datang”. Selama menunggu selama satu jam tersebut, kelinci selalu bertanya-tanya ada apa dengan harimau dan Beruang Madu? apa nanti Koala juga akan ikut? tumben mereka mau main ke kosan tanpa dia minta, biasanya mereka hanya datang kalau Kelinci atau Koala sedang membutuhkan bantuan saja, atau ketika barang mereka masih ada di salah satu rumah Kelinci atau Koala.

Saat sedang asyik kembali membaca tiba-tiba terdengarlah teriakan dari luar.
Beruang Madu “heiii… Kelinci… kamu ada di dalam?”
Kelinci cepat-cepat keluar dari peraduannya, ketika sampai di luar, yang dilihatnya hanyalah si Beruang Madu saja, sedangkan si Harimau sama sekali tidak ada. maka bertanyalah ia pada si Beruang Madu. “Harimau mana?”
Beruang Madu, “nanti dia nyusul! boleh masuk ga? dingin disini…” katanya sambil mulai menggosokkan cakarnya yang besar. Kelinci pun mempersilahkan si Beruang Madu untuk masuk ke peraduannya yang SYUKURLAH cukup besar untuk ukuran si kelinci, dan sedang untuk ukuran si Beruang Madu.

Ketika Kelinci menyuguhkan madu dari sarang lebah yang dekat dengan rumahnya, Beruang langsug meminumnya dengan nikmatnya. Selesai menonton si Beruang madu meminum madunya sang Kelinci langsung bertanya kepada si Beruang madu:
Kelinci: “Jadi? tumben sekali kamu sendirian yang datang ke rumah aku? ga sama Harima u?”
Beruang Madu: “nanti juga dia menyusul!” (sambil masih asik menjilati bibirnya yang masih ada madunya).

Tidak beberapa lama setelah itu, jendela si Kelinci berbunyi kembali, “Tok, Tok!”. “Nah itu pasti si Harimau” Kata si Beruang Madu. Namun Kelinci Nampak heran, masa Harimau yang begitu besar, mengetuk jendela, bukannya pintu sekalian, seperti sang Beruang Madu?. Ketika Kelinci membuka jendelanya, benar saja dugaannya! ternyata yang ada di luar bukanlah sang Harimau, tetapi Merpati pos dengan sebuah surat mengapit di paruhnya.

“Sorry… sepertinya aku akan telat ketempatmu, Kelinci, malam ini, biar si Beruang Madu aja ya yang menemani kamu? gak papa kan? soalnya aku cape banget nih, kalau harus kesana lagi…” bunyi surat yang ternyata ditulis oleh sang Harimau. Kelinci pun segera menyampaikan isi surat itu kepada sang Beruang madu. Si Beruang tampak heran… kemudian tiba-tiba saja dia menarik tangan si Kelinci dan berkata “Kita susul saja dia!” sahutnya. Dengan tubuh yang mungil, Si kelinci hanya bisaa berteriak sebentar mengatakan “Tolong!!!! Aku Diculik!!!!” Sayangnya malam itu sangat gelap, hgingga satwa lain tidak ada yang bisa mendengarnya.

Part II: Lapangan Tempat Si Harimau

Setelah berlari cukup jauh, akhirnya Beruang madu dan Kelinci sampai juga di sebuah tempat, mirip seperti lapangan yang sangat luas, masih dengan Kelinci menggelantung di badannya, si Beruang madu berjalan secara perlahan ke sebuah pohon. Samar-samar si Kelinci melihat sebuah tubuh sedang tidur. “Mirip sama Si Harimau… apa itu dia ya?” Tanya Si Kelinci dalam hati.

Akhirnya si Kelinci dan Beruang Madu sampai pula di pohon tersebut, dengan perlahan si Beruang madu pun menurunkan Kelinci dari pundaknya. Lalu berjalan ke sebelah makhluk yang sedang tertidur.
“Heh, Harimau… aku bawa kelinci nih… tinggal koala yang belum aku bawa… kita jadi berangkat ga hari ini?” Tanya si Beruang Madu.
Sang Harimau, menggeliat sebentar, kemudian bangun dan kaget karena ternyata si kelinci sudah ada di antara Beruang Madu dan Harimau. “Wah dah sejak kapan kamu ada disini kelinci?” Tanya Harimau.

Karena lelah Kelinci hanya menjawabnya dengan pelan, “Tadi aku diculik sama Beruang Madu, dia pikir kamu kenapa-kenapa gitu makanya ga jadi ke rumah aku” Kata kelinci polos.

Harimau dan Beruang Madu langsung tertawa dengan riang, kemudian Beruang Madu bertanya kepada sang Harimau, “jadi… siapa nih yang mau jemput si Koala?”. Sambil menguap Sang Harimau pun mulai berdiri dan mulai berjalan perlahan, “ya sudahlah biar aku saja, kau kan sudah jemput Kelinci, pasti kamu cape kan?” kata si Harimau.
Namun belum sampai beberapa meter menjauhi pohon kediaman Harimau, dengan tubuhnya yang besar, Beruang Madu dengan cepat menyusul si Harimau. “Jangan… Aku aja deh yang jemput Koala, soalnya sepertinya kamu cape banget …kan perjalanan tadi lumayan juga… kamu temenenin si Kelinci aja ya” lantas dia pun segera berlari dengan keempat kakinya yang besar menuju kegelapan malam meninggalkan Kelinci dan Harimau.

Part III: Menunggu bersama si Harimau

Selepas ditinggalkan oleh sang Beruang Madu, dengan penasaran dia langsung mendekati sang Harimau dan duduk disebelahnya. “Kemana si Beruang Madu?”

“Jemput Koala…” jawab si Harimau dengan santai.

“Emang kita mau kemana?” Tanya si kelinci lagi.

“Mau ke tempat yang indah… kamu liat aj nanti… tenang ga akan lama ko sampai kesana, pemandangannya bener-bener indah deh…” sahut si Harimau lagi.

Kelinci hanya mengerutkan keningnya dan menatap si Harimau dengan curiga… lantas bertanya kembali, “kalian ga akan makan aku kan? jangan lupa manusia sangat suka pada dagingku loh!”

Sang Harimau hanya tertawa… “Tenang aku masih lebih suka daging rusa daripada dagingmu, soalnya lebih besar ukurannya… hahahahaha”

Kelinci pun ikut tertawa…”Apa menurutmu Koala akan marah karena aku tiba-tiba pergi ke tempatmu tanpa memberitahukan nya?”

“Kenapa dia harus marah? dia kenal aku kan sudah lama, jadi dia pasti tau aku tidak akan macam-macam padamu” Tanya Harimau heran.

Kelinci hanya mengangguk, namun tetap hatinya tidak akan tenang sebelum Koala dan Beruang Madu datang. Tidak beberapa lama, seekor burung merpati pos melemparkan sebuah surat kepada sang Kelinci. “Siapa?” Tanya Harimau. Kelinci pun segera membuka surat tersebut…

“Bagaimana keadaanmu disana? baik-baik aja kan? si Harimau menerkam kamu ta? aku harap tidak… aku lagi di rumah si Koala neh… dia sedang bersiap-siap… sepertinya dia lebih tau kami akan kemana dibandingkan kamu tadi… hhaha… ok deh… mungkin 15 menit kami akan sampai disana…hati-hati ya… PS: Beruang Madu”. Usai membaca si Kelinci hanya tersenyum, dan segera menyampaikannya kepada sang Harimau.

Tak beberapa lama, datanglah sang Beruang madu dengan Koala di pundaknya, kemudia Si Harimau yang tadinya hanya tidur-tiduran saja, kemudia berdiri dan menghampiri si Beruang Madu, kemudian mereka mengobrol dan berbisik-bisik, harimau berbalik dan berkata kepada Kelinci dan Koala. “Kalian tunggu disini ya, kami tidak akan lama” setelah itu Kelinci dan Koala ditinggalkan oleh si Harimau dan Beruang Madu.

Tak beberapa lama kemudian, Harimau dan Beruang Madu pun kembali dengan membawa banyak sekali perlengkapan, yang ternyata adalah makanan. “OK.. Pa semuanya sudah siap untuk berangkat? Aku siap” kata si Harimau. Dilanjutkan dengan kata siap dari Beruang Madu dan Koala. Namun, Kelinci yang dari tadi masih bingung akhirnya bertanya kepada ketiga sahabatnya. “Sebenarnya kita mau kemana sih?”, namun sebelum Kelinci memprotes mereka bertiga, si Harimau langsung menggigit leher si Kelinci dan menaikkannya ke punggungnya. Beruang pun melakukan hal yang sama terhadap si Koala. Bedanya, Koala tertawa, sedangkan si Kelinci masih terlihat bingung.

Akhirnya mereka pun berangkat. Harimau dan Kelinci sebagai penunjuk jalan, dan Beruang Madu dan Koala mengekor di belakang. Jalanan yang tadinya datar kemudia semakin meninggi udara pun semakin dingin… bagi ketiga sahabatnya hal itu bukanlah merupakan masalah, namun bagi Kelinci yang bertubuh mungil dan tidak memiliki bulu setebal Harimau, Beruang Madu, dan Koala, hal itu bisa menjadi masalah. Beruang Madu yang melihat si Kelinci kedinginan, kemudian mendekatinya dan menutupnya dengan selembar selimut manusia, Kelinci kaget dan bertanya kepada Beruang Madu, dari mana dia mendapatkan selimut manusia itu.

“Tadi, saat kami pergi sebentar meninggalkan kalian di rumah si Harimau, yah lumayan kan… aku dan Harimau bisa mencurinya, hohoho” tawa si Beruang Madu.

Kelinci tersenyum dan berkata. “makasih ya”.

Akhirnya sampai lah mereka di sebuah puncak bukit yang bernama Cartil. dibawah kaki mereka terhampar lampu-lampu kota yang menyala dengan indah, (karena sudah malam). Saat itulah Kelinci teringat janji dari para sahabatnya itu, sebelumnya Kelinci hanya mendengarkan kisahnya dari Koala dan Harimau, kemudian saat dia menceritakannya keinginannya untuk pergi ke tempat tersebut, Beruang Madu pun berjanji untuk mengajaknya pergi kesana.

“Ternyata disini ya tempatnya?” woa… keren banget ya?” teriak Kelinci saking gembiranya. Sahabatnya hanya tertawa bahagia melihat kelinci tertawa-tawa dan meloncat-loncat dengan riangnya.


***TAMAT***


My dream Around The World

Horeeee akhirnya aku berhasil membuat blog yang baru... awalnya sempet lupa bagaimana caranya tapi baguslah akhirnya aku bisa juga. Alasan aku membuat blog yang terbaru ini adalah supaya tulisanku terlihat setidaknya lebih rapih lah sedikit... hohohoho... dan blog yang pertama memang aku rasa aga berantakan.

Blog ini aku ciptakan memang untuk menuliskan semua kegiatan perjalanan ku... cukup banyak perjalanan yang telah aku lalui namun hanya kadang saja aku ceritakan di blog tersebut, hal ini memang karena sometimes aku dah malas nulis aja, tapi jujur, menulis memang salah satu hobiku... selain memotret tentunya... hahaha...

Mungkin tidak hanya tulisan saja yang akan aku tuliskan di blog ini namun salah satunya ada kisah perjalanan ku yang berupa cerpen fabel. Hal ini dibuat agar nantinya para pembaca blog aku tidak bosan (well aku harap kalian tidak bosan!)

Mimpiku adalah jalan-jalan keliling dunia, berkenalan dengan banyak orang, berbuat sebaik mungkin kepada sesama makhluk hidup, dan berbuat damai dengan berbagai pihak... well... andai semua orang itu baik, pasti kita tidak akan mengenal apa yang dinamakan peperangan bukan?

Aku sangat suka hewan, apapun itu, bahkan makhluk melata pun bisa dikatakan sangat lucu kita tidak menganggunya, namun apabila kita menggangunya jelas makhluk tersebut tidak akan terasa lucu, hahahaha...

well... rasanya aku makin garing, dan cuacanya pun semakin mendung... )bukan mendung lagi bahkan sekarang saja sudah mulai hujan... sebenarnya saat ini aku sedang dalam taraf menuliskan skripsiku dan mencoba untuk mengarang sebuah kisah lanjutan tentang dunia fabel kepompong (nama Grup para sahabatku)

Di luar hujan turun dengan lebatnya,,, aku jadi malas pulang (keluar jalur tulisan...oh well) namun akhir-akhir ini aku jadi agak malas menuliskannya.

ok Deh sekian dulu perkenalan mengenai blog ku yang baru ini, aku harap kalian akan rajin membacanya... terimakasih...