Pada suatu hari, hiduplah seorang permaisuri yang cantik, juga memiliki perangai yang sangat baik hati. Raja dan rakyat sangat mencintainya, namun sayangnya permaisuri tidak memiliki anak. Terkadang Permaisuri sering menangis sendiri karena kesepian dan tiada suara anak-anak kecil di dekatnya, bila ia berjalan-jalan ke desa bersama para pengawalnya, tidak jarang ia merasa iri dengan keadaan ibu-ibu di desanya yang memintanya untuk mendoakan anak-anaknya.
Pada suatu ketika, saat permaisuri sedang dilanda kesepian, permaisuri berjalan-jalan di sepanjang pantai dekat dengan istananya. Ketika ia sedang melamun, datanglah seekor kucing yang sedang hamil. Seketika itu juga permaisuri terpana melihat kucing tersebut. Kucing itu berwarna belang-belang dengan warna-warna yang bersinar seputar tubuhnya. Si kucing tadi hanya melewatinya tanpa menengok sama sekali.
Keesokan harinya, karena penasaran, permaisuri kembali datang mengunjungi pantai di dekat istana, ia pun duduk di tempat yang sama. Dan kali ini, kucing tersebut kembali melewatinya tanpa permaisuri bisa menyentuhnya. “oh tuhan.... betapa pongahnya kucing ini” ujar permaisuri sambil tersenyum.
Ketika untuk yang ke empat kalinya permaisuri melihat si kucing tersebut. Kali ini perut si kucing semakin membesar, dan terlihat jalan si kucing semakin sulit, akhirnya permaisuri dengan iba langsung menghampirinya.
“Wahai kucing cantik, berapa bulan lagi kah anakmu akan lahir?” tanya permaisuri tersebut.
Si kucing hanya menatapnya dan mengeong kemudian berlalu tanpa permaisuri bisa menyentuhnya kembali.
Malamnya, permaisuri bermimpi. Ia memimpikan mendapatkan anak kembar tiga, namun anak ini sungguh berbeda dengan anak yang biasa, ketiga bayi tersebut tampak bersinar dengan indah persis seperti sinar yang ada di tubuh si kucing yang sering ia lihat. Saat itu juga permaisuri langsung bangun dan menceritakannya kepada sang Raja. Mendengar hal tersebut, sang Raja sungguh senang dan langsung bertanya kepada peramal istana apa maksud dari mimpi permaisuri.
Peramal istana yang setia pada Raja dan Permaisuri, kemudian mulai menyiapkan semua bahan untuk menyelidiki arti dari mimpi si peramal. Ia kemudian meminta Raja untuk tidak menggangunya selama 7 hari 7 malam.
Permaisuri yang masih penasaran dengan arti mimpi tersebut, kemudian semakin sering datang ke pantai, namun sejak datangnya mimpi itu, permaisuri tidak pernah melihat kucing itu lagi.
Akhirnya penantian selama 7 hari 7 malam pun usai, peramal istana langsung datang menemui sang Raja dan Permaisuri. Dengan tertawa dan tersenyum dengan gembira, peramal istana berkata. “Wahai Raja dan Permaisuri ku, pada akhirnya hamba telah mendapatkan arti dari mimpi sang permaisuri”
“apa itu wahai peramal istana? Apakah berita baik, ataukah buruk?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Berita baik, wahai Rajaku. Sebelumnya, hamba ingin bertanya kepada permaisuri, apakah permaisuri pernah bertemu dengan seekor kucing berwarna belang-belang yang sedang hamil besar dengan warna tubuh yang bersinar?” tanya si peramal.
“Ya benar” sahut permaisuri.
“Wahai Raja ku... kucing tersebut adalah kucing dari khayangan, ia bertugas menyampaikan pesan kepada umat manusia, bahwa sang ratu akan segera hamil” mendengar ini semua orang di istana langsung bertepuk tangan.
“Belum sampai disitu wahai Raja agungku... kemungkinan juga permaisuri akan melahirkan 3 anak kembar dan kucing ini juga mengatakan kepada hamba, kemungkinan bayi sang permaisuri akan sedikit berbeda dengan anak lainnya, menurutnya ini adalah cobaan dari tuhan untuk kita semua” ujar si peramal lagi.
“Cobaan seperti apa itu peramal istana?” tanya Raja penasaran.
“Mohon maaf namun, ia tidak mengatakannya lagi yang mulia” kata si Peramal Istana.
Raja hanya menghela nafas kemudian menjawab. “baiklah maka akan kita tunggu kelahiran anak-anak ku nanti.
Kerajaan Berhati Emas II
Tidak terasa perut sang permaisuri semakin membesar, hingga tibalah hari kelahiran anak-anak kembarnya tersebut. Proses kelahiran sangat sulit karena bayinya seperti bisa bergerak dan mencakar perut permaisuri, setiap kali bayi itu bergerak, permaisuri selalu berteriak, hingga sang Raja yang sangat mencintainya tidak kuasa menahan kesedihan.
Akhirnya tiga bayi kembar yang dinantikan pun telah lahir, sayangnya permaisuri yang baik hati tersebut, tidak dapat bertahan lama dan meninggal dunia. Istana indah yang tadinya penuh kegembiraan pun tiba-tiba dirundung duka. Saat itulah keanehan anak-anak Raja dan Permaisuri terlihat.
“Ayah... Jangan bersedih.... Ibu baik-baik saja disana, bersama malaikat pencipta kita... pesan ibu, jika ayah bersedih nanti, maka ibunda pun kan ikut bersedih di dunia sana” kata salah satu dari bayi tersebut.
Raja dan abdi istana yang lain sangat terkejut mendengar hal ini. Kemudian Raja pun ingat akan ucapan peramal istana bahwa anak-anak dari Raja dan Permaisuri ini memang memiliki keunikan bila dibandingkan dengan anak-anak yang lain
Semakin hari, semakin tumbuhlah ketiga anak tersebut, dan semakin mereka dewasa, sinar dalam diri mereka semakin terlihat. Pernah suatu hari si bungsu dari tiga bersaudara bertanya pada ayahnya. “wahai ayahku sang Raja yang bijaksana, tahukah ayahanda mengapa terkadang ketika kami lewat di pasar, para penduduk sering menengok kami seakan-akan kami ini adalah anak dari malaikat?” tanya nya.
Raja hanya terseyum dengan pertanyaan si bungsu dan menjawab “wajarlah sayang ku, engkau dan kakak-kakakmu adalah anak-anak dari Istana Bahagia, mana mungkin tidak ada penduduk desa yang tidak melirik kalian?” ujarnya.
Tahun ke tahun anak-anak Raja yang sungguh unik tersebut semakin tumbuh dewasa, tampan, dan cantik. Si sulung tumbuh dengan badan yang sangat tegap dan memiliki jiwa memimpin yang sangat hebat, si tengah menjadi gadis yang sangat cantik, seperti permaisuri dahulu, dan memiliki tingkah laku yang sangat bijak sama seperti ayahandanya. Dan si bungsu, memiliki badan yang sangat kecil, namun memiliki ke arifan dan ketampanan yang luar biasa.
Ketika mereka semua sudah beranjak dewasa, mulai banyak negara-negara lain yang merasakan keunikan dari anak-anak Raja dan Permaisuri, sudah banyak negara-negara tetangga yang ingin menjodohkan anak-anak mereka dengan anak-anak Raja dan Permaisuri, namun sayangnya Anak-anak Raja dan Permaisuri selalu memberikan alasan. “belum saatnya wahai Rajaku”.
Karena telalu sering menolak, akhirnya timbulah kebencian di hati kerajaan-kerajaan dari negara-negara lain itu terhadap istana sang Raja dan Permaisuri, mulailah banyak peperangan yang timbul.
Ketika peperangan tersebut, ternyata sang Raja yang telah kehilangan Permaisurinya, terkena panah beracun, dan langsung di tolong oleh anak sulungnya. “Wahai anakku... sebelum ayahmu akan menyusul ibumu.... tolong lindungilah Istana kita, kalau bisa perbesarlah kawasan negara kita tanpa adanya kekerasan.”
“Bagaimana caranya wahai ayahanda?” tanya si sulung sambil menangis. Namun sebelum sang ayahanda mengatakan yang sebenarnya... tiba-tibalah munculah kucing yang pernah ditemui oleh sang Permaisuri dulu, ia langsung muncul dan menerkam marah ke arah si sulung sehingga si sulung pun menjauh dari ayahnya. Kucing itu hanya menengok sekali dan langsung membawa sang Raja pergi dari medan peperangan membiarkan si Sulung yang hanya bisa terdiam terpaku.
Tidak beberapa lama, datang lah si Tengah dan si Bungsu ke arah kakaknya yang terduduk terdiam. “ kakanda, ada apa?” tanya adik-adiknya dengan cemas.
Namun kakaknya tidak dapat berkata apa-apa dan kemudian langsung pingsan.
Setelah sang Raja menghilang, kerajaan semakin kacau. Si sulung yang melihat sendiri bagaimana ayahnya menghilang, berusaha menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada abdi kerajaan, namun setiap kali ia ingin bercerita mulutnya seperti tidak bisa bicara, hingga akhirnya semua orang tidak ada yang percaya padanya.
Si tengah akhirnya dipercaya menjadi seorang ratu yang memimpin, hingga akhirnya ia tidak bisa membantu atau mendengar ocehan apa yang dikeluarkan oleh kakaknya hingga ia juga menganggap bahwa kakaknya sudah gila.
Si bungsu, yang paling kecil dan paling arif sungguh tidak menduga keluarganya akan berubah seperti ini. Hingga pada suatu malam yang terang karena rembulan. Si bungsu dengan diam-diam berjalan-jalan di pantai yang dulu sering dilewati oleh sang Permaisuri.
Karena lelah berjalan-jalan ia akhirnya dudul di sebuah batu di pinggir pantai dan melamun. Ketika ia sedang melamun itulah, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sebuah cahaya terang... dan tiba-tiba dari cahaya itu, munculah sang Permaisuri dengan seekor kucing Putih dengan
Si bungsu terlonjak dari kursinya dan ingin kabur, namun ia sama sekali tidak dapat bergerak. “wahai anakku... jangan lah kau takut...” sahut sang permaisuri. Kemudian Permaisuri menengok ke arah dan ke Kiri. “kemana kakak-kakakmu wahai anakku?”
Si Bungsu yang sudah mulai tenang, kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Permaisuri. Permaisuri hanya mengangguk dan mengatakan. “Seharusnya sang Raja tidak pergi dengan cepat, namun apa boleh buat... kalian adalah anak-anak yang diturunkan dari langit, sama seperti teman yang ada di sebelahku ini, apa kau kenal siapa kucing di sebelahku ini wahai anakku?”
Si Bungsu hanya menggeleng. “dia adalah ayahmu” permaisuri menengok dan meminta suaminya untuk berubah wujud. Sekali lagi si Bungsu menyaksikan dengan takjub. Lalu sang Raja dengan wibawanya yang biasa meminta si Bungsu untuk menyampaikan pesan kepada kakak-kakaknya agar dapat memimpin rakyat menjadi lebih baik.
“Kalian dilahirkan untuk dapat memperbaiki kekacauan yang ada di istana ini, tanpa kalian sadari sebenarnya aku memiliki tiga kerajaan yang tempatnya agak berjauhan, hal ini aku sembunyikan agar tidak ada yang semakin sirik kepada keluarga kita dan bisa tetap melindungi kamu dan saudaramu, sekarang karena yang terjadi ternyata di luar keinginan aku dan ibumu, maka aku harap kamu dan kakak mu bisa mengembalikan ketentraman yang dulu pernah ada”
“Katakan pada kakakmu, ia harus dapat mengurus kerajaan di sebelah Timur, disana pula ia akan menemukan putri yang akan dinikahinya nanti dan rakyat pun akan percaya padanya, Kakakmu yang lain harus mengurus kerajaan di sebalah Barat, dimana akan ada seorang pangeran yang akan melamarnya nanti, dan kamu sendiri akan memimpin kerajaan ini”
Tidak lama setelah sang Raja dan Permaisuri mengatakan hal tersebut mereka pun langsung menghilang secara tiba-tiba. Dengan susah payah, akhirnya si Bungsu segera pulang dan menyampaikan pesan orang tua mereka kepada kakak-kakaknya.
Akhirnya setelah bertanya kepada si peramal istana yang sudah semakin tua, namun memiliki indra keenam yang masih sangat tajam, kakak-kakaknya pun langsung berangkat ke negeri yang berbeda untuk memiliki istana yang disebutkan oleh orang tua mereka dan bahagia selamanya. Bagaimana dengan nasib si Bungsu? Si Bungsu walaupun memiliki tubuh yang tidak tegap seperti kakak pertamanya, dan tidak juga memiliki ketegasan yang sama seperti kakaknya yang kedua, namun ia memiliki kewibawaan seperti sang Raja dan Kebaikan sang Permaisuri, hingga Rakyat merasa dipimpin oleh Raja dan Permaisuri yang terdahulu. Keunikan lain dari tiga bersaudara ini adalah semakin mereka berbuat baik terhadap masing-masing rakyatnya semakin bersinarlah tubuh dan istana mereka, oleh karena itu kerajaan dari tiga bersaudara ini sering disebut sebagai kerajaan berhati emas.
The End
^_o
BalasHapuscerita sebelum tidur yang menarik sist mimil...
salam,
Kucing Gunung